antalogi 1: ASMARA SANG DUKA

 Puisi 1


KAUKAH AKU 


Semusim pertemuan seketika kebersamaan 

Hanyalah cipta ruam berpanjangan

Tak reda dilipur senyuman tak sembuh di tutup laluan.

Dikau nan dikata pembekas luka pengabadian kesakitan 


Suka tak suka

Riang dan lara

Bersahaja semayam sang Sukma

Mencatat hari hari kita

Di kitab sejarah yang lupa jalan tuk merangkai bunga' 

Nan pasti namamu tetap dihati 


Wahai sang cinta.

Bilamana malam berlayar 

Masih ada wajah dikau di pelupuk kesepian 

Di ruam dada kelukaan

Drama nan berjilid berbaris di batu 

Kini jadi luka luka an


Hamba fahami sepenuh jiwa

Duka bukan milik mu

Tapi lara kita bersambungan.

Jiwa mu dah sentuh aku

Bahkan dalam suara sepi semilir nan tak difahami 

Sebagai dendam kedewasaan 


(Kau tahu kemana daku Tah dimana)


Rantau panjang 24-9-2025


Puisi 2

LALUAN SANG PERINDU


di tepian sungai Air mata ini

masih ada luka darah remaja

dimana dikau bermain main asmara

cipta kisah dua angsa nan patah sayapnya


kekasih dintikam badai

asmara lemah layu terkulai

sang cinta hilang makna di riak laluan

berseru arus lara menuju muara


kau bukan pembunuh rasa

kau cuma pembius asa


mana kala malam menyelimuti cahaya.

gerimis turun diujung senja

Masih kubalut darah luka

nan abadi menyiksa kenangan 


rasa ini

adalah dendam malam

cinta ini 

adalah perintah pulang


rerumputan seakan menangis.

melebarkan tarian rempak di kelam sunyi

rembulan pun redup semata.

memancarkan suram kerinduan silam 


sesat langkah.

tak da jalan

pulang jauh.

di jiwa rapuh 


(semua cuma drama Remaja)


RANTAU PANJANG 23-9-2025


PUISI 3


AIR MATA SANG MATA AIR


nak bertanya pada diri

Berapa sanggup kau tampung gelisah 

Bila kembang kembang menabuh genderang 

Perang rasa dalam lagu lagian


Buai khayal di silauan dunia

Tai henti hempas keyakinan 

Bahasanya dunia bukan tuk diraih

Namun redha melepaskan 


Sempurna dah semua rasa

Buka segala dairi kelam

Nan pergi tak kembali 

Nan hilang tak terganti 

Patah lunglai tiada pulih

Dalam rasa pilah dan pilih


Aku bukan aku

Kau jua bukan dikau 

Nan tampak hanya ukiran tanah

Dalam senyuman Illahi rabbi


Maka biar aku cinta kau sayang

Dalam cinta sebenarnya cinta

Di tajjali suci sang abadi 

Bukan di af al jasad pana nyeri


RANTAUPANJANG 10-10-25


PUISI 4


NAN DAH LUKA

jelma an bayangan kekasih

menurih perih hati tersisih 

dah ancau dada.di sesak buih

memeluk luka lukaan nan pedih


sayang

sebenarnya apa nak kau cari

umpama

mengejar bayang kebut dikelam Rinai 

isak dan sedu

menjadi irama di sepi diri

meruak

segala ingatan lama nan menoda mencedera i


daku bukan nak menagih kata

atau pula janji nan dah jadi abu

tapi mengapa jumpa jumpa lalu

seakan menjadi kisah sakit tak bisa sirna.


andai kau tahu betapa dada masih berharap lagi

biar jasad Zahir nyatanya terus melangkah pergi

nak balikpun pintu dah angkau kunci 

memaksa aku pulang pada luka dalam diri


terbayang bayang 

senyuman mu kaseh

terngiang-ngiang 

tuturmu duhai cinta 


tapi itu hanya igauan sahaja

nan tak mungkin nak balik semula

kusadari kini

semua mustahil nak jadi

asbab kau tiada lagi ada di sisi


aku hanya kirimkan dikau do a

semoga bahagia sepanjang masa

aku hanya kirimkan pohon

agar ma af darimu jadi pengiringan

langkah langkah

sepi ini.

---------------------

PUISI 5

KASIH SEDERHANA 

tusukan sinar mentari pagi
menikam resah dalam diri
menyapa embun di dedaunan sepi
usai reda semalam mimpi

semilir angin mengusir angin
membawa dekap sunyi dingin
ditarian flora nan bermain main
tarian hati duka luka kemarin 

cinta ini sederhana 
menembus asa alam fana
tak cukup jerit pekik suara
meraungkan kerinduan azali asa


kasih ini sebenarnya 
tak bisa dilerai dengan luka
ia bersatu dengan do a
sang camar di tepi samudra 


lukislah aku di pelupuk mata
bawalah aku ke lubuk rindu 
dan kita adalah satu jua
dalam hakikat Sang maha cinta 

lembayung senja merah membara
ketika angin berhenti hembus
kesepian menusuk dalam jantung
menghentak degupan rindu sia sia

segala daya telah aku ikhtiarkan
demi menuju mahligai kasih azzali
dari swnyuman ke pelataran rindu
namun bertemu itu jua

rezam duri menikam kehati
meracuni asa nan kian menepi
kemana arah langkah kasih sejati
tinggalkan laluan nan mengesan lara

kabut senja membawa gerimis
di keremangan jiwa memudar harapan
dimana lagi dimana pilu
cinta sejati hanyalah pulang pada diri

biar sepi menjadi jalan pulang
bersembunyi dari riuh asmara fana
mengucap makna kasih cinta sejati
di malam malam di pertarungan suci

Rantau panjang 27-10-25

Puisi 6

MENUTUP PILU MERAUNG RINDU

mawar menebar racun di sela duri
saat embun mengabut menjelang senja
masih ada ruam nan tiada reda
di dada sakit luka semalam

wajahmu nan penuh lara
dihempas badai nan tak kunjung sirna
dan cinta ini masih berbahang
memilu rindu di syahdu lalu

Gerimis
menulis lukis lara dalam rintih
gerhana
cinta luka tak kunjung usai jiwa

asmara
dara meraungkan kesal tiada sudah
dihias warna warni harapan resah

kaulah api
kaulah diri, sang cinta rindu abadi
kaulah air
nan menyirami kerontang rasa ada

kaulah segalanya
kaulah awal dan akhir kata cinta
kaulah jua
kesan mengesan abadi tiada berawal

ditiap tarikan nafas
masih ada dirimu
ditiap degup dalam dada
hanyalah padamu yang damba
segala damba jiwa ini

20-10 25

Puisi 7

SEBENING EMBUN PETANG

sinar matahari senja
Merah saga emas menyala
Berkilau di dedaunan basah
Usai gerimis dipetang ini

Aku nak tepiskan kenangan
Dari perjalanan nan penuh luka
Namun angin membawanya pulang
Bersama kabut membayangkan semulanya

(Corrus)
Beraneka cinta telah menyapa
Dari terang cahaya sempurna
Namun wajah wajah nan merupa
Tak kuasa menampung gelisah hamba

Disana makna kehilangan daya
Disini sepi jadi jalan kembali
Meraba dada penuh rasa cinta
Namun berakhir luka lara

(Outro)
Kekasih nan ditanam sang sejati
Bunga bunga penuh racun duri
Ma afmu kan ni damba an utama
Dalam Menuju akhir segala kisah

Engkau dibakar kasih sayang sang Cinta
Aku tak kuasa menatap silaunya
Hanya do a semoga dendam sirna
Bersama damai kita Menuju sang Maha Cinta

22-10-25

Puisi 8
TIKAM JAN JADI BENCANA
rerumputan menari nari
di hati nan sunyi menyepi
dan sapa lembut cahaya mentari
menyambut pagi kekasih hati

siapa ucap kata sehati
kemana arah sumpah semula
kini hanyalah bertikam lidah
kata sengketa merubah arah

kekasihku
dimana salah dimana amarah
sehingga badai menerjang sampan asmara
dah karam kita dilautan cinta
meyeka nyeka si air mata

aku bukan nak paksakan rasa
bukan pula mengemis rasa
tapi kisah laluan bersama
haruskah begini akhir kisahnya

lupa dzikir sesatlah fikir
lupa syukur jatuh tersungkur
mengapa kita tak belajar rela
menjaga cinta dan yang kita punya

pada azali segala cinta
bermula tatap tajam menikam
berpasrah rela aku dimalam sepi
semoga duga an ini hanyalah sementara
menguji tekad kita berdua

21-10-25

Puisi 9

TARIAN DOSA SANG CINTA

aku habis kalimat
Buat memuji diriku sendiri
Maka Pujian lepaslah dijasad mati
Biar mereka menjadi
Pemuja dirinya sendiri

Aku habis kebanggaan dan kesombongan
Tuk mengangumi diriku sendiri
Maka ku pancarkan cahaya
Untuk menghias keindahan ku sendiri

Bak menatap cermin
Aku berhias tiap waktu
Mengagumi diriku sendiri
Dan melepaskan kalimat agung
Tentang diriku sendiri

Akulah yang maha sombong
Akulah keangkuhan itu
Dan aku mencintai bayangan ku
Seperti cinta pada diriku sendiri

Maka datanglah menghiba
Menangis dan meratap dan berharap
Karena aku dan bayanganku
Berkasih kasihan tanpa batasan

Dan saat akan rindu
Tersungkur lah
Dan saat aku tersenyum berbahagialah
Maka cintaku abadi
Dalam sebutanmu padaku

25-10-25

Puisi 10

AKU BUKAN MILIK SIAPA

setiap mawar menebar wangi
seiringan racun bertabur kabut
senarai kaseh jauh mendalam
disana duri kan tikam sejati

dah dikata sejak semula
cinta bukan untuk merangkul
tapi siapkan buat segala kurban
nyatanya memiliki tuk melepaskan

kembali pada malam
bersemedi dalam sunyi
menemukan asmara sehati
Bersama sang maha sepi

menelan rasa manisnya luka
dan air mata sucikan diri
menuju kesucian Hakiki
melepas dunia demi sang sejati

usah bangga kan pupurmu
atau tarian lenggok lenggang
aku tak akan terpikat silauan
karana aku dah berdamai
Dengan asa Semua rasa

20-10-25

Puisi 11

MERAIH BAYANGAN 

Mata itu bukan tatapan tapi kegelapan
Sebab ia melihat karena diperintah menangkap makna
Tubuh ini bukan kehidupan
Sebab ia berdetak dalam helaan nafas yang ditetapkan
Maka semua hidup hanyalah kematian
Yang hidup adalah sang hidup itu sahaja

Maka saat malam menyelimuti cahaya
Siapa nan kan tahu beda warna dunia
Atau saat usia merebut penglihatan
Siaia nan akan bedakan anyelir dan mawar
Semua hanya dikehendaki dari pemilik kehendak
Berakhir bila sang kehendak mengakhiri

Aurora hanya biasa pandangan dan permainan cahaya
Horizon cuma ujung kemampuan pandangan menjelaskan
Lembah indak dari puncak bukit
Tapi bukit megah dari tatapan lembah
Tahulah aku
Semuanya hanya soal bagaimana mataku diatur memaknai nya

Usai semua perenungan ini
Hamba tahu
Yang terlihat tak seperti sebenarnya
Yabg sejati dalam kebenaran
Hanyalah satu itu itu jua

20-10-25

Puisi 12


KASIH SEBENARNYA 

kau datang
bersama kabut dingin
menyentuh wajah yang lupa tersenyum

rinai menempel
di gigil lelaki yang menunggu mimpi

aku berjalan
menyusuri jalan terjal luka
setiap bisik
mengguratkan rindu yang tak bertepi

wajah-wajahmu muncul
memanggil pulang
tapi kaki ini masih terperangkap
di rahasia yang tak tersentuh kata

kisah-kisah tertulis
di tepi waktu
cemburu menempel
kehilangan menusuk

hapuskan air mata?
tak mampu
karena cinta
tak pernah mula
dan tak kan ada akhir

wahai kasih sejati
yang tak mungkin kugapai

18-10-25


KASIH SEJATI

kau datang bersama kabut
menyentuh dingin wajah sunyi
bersama rinai nan tiada seyuman
dan gigil lelaki diambang mimpi

daku adalah kembara sepi
di pendakian terjal impi impian
menelusuri kesakitan nan tak usai
ditiap bisik menuju akhir

wajah wajah kekasih menyapa rindu
panggilan tuk pulang semula
di rahasia sang maha rahasia
bersembunyi kaseh tak ada akhirnya

kisah kisah ditulis azzali
semua tentang kini lalu dan esok
digenggam cemburu tiada kesudahan
dan makna kehilangan erti

hapuskan segala duka
nak seka semua air mata
sebenarnya cinta tak pernah mula
jua tiada kan ada akhirnya

wahai kasih yang sejati


Komentar