Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Antalogi 3: Dendam Remaja

 Puisi 1 Yuni Bukan Air Mata ----------------------------------- Kau benar benar jadi nyata Di senyum badai dada Dibawa Sang cipta kembali pada jasad Nyawa dan entitas berbeda  Namun Yuni Kau tetap kamu Dengan luka, dengan cinta  Dan senyuman misterius mu Kau bukan air mata Kau sejarah yang menjadi guru Menapak hidup nan kian dekat  Kini dihadapan hadir. Kepastian memang dikau Karena cahayanya tak kan dusta Pada malam ku nan gulita  Kau Yuniku. Pasti di dada itu  Membawa kebingungan jasad Dari kisah terputus  Nan ingin di mulakan semula Tak siap aku  Akan Luka luka baru  Nan mungkin mengikuti  Bangko 22- 9 - 2025 ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️ Puisi 2 ITU ITU JUA peperangan rasa nan menggelora  Bukan alasan ku tiada faham  Kalau engkau sesuatu nan sama Ya itu itu jua Nan pulang semula Walau tak akan ada nan fahami Dia hanya mengandung jiwa Nan sebenarnya Hanya itu itu jua Tak berubah Tak beralih  Tak berkurang  Tak berleb...

Antalogi 2: Bayangan

 Puisi 1 PENDAKIAN SIA SIA (WIKO ANTONI) saat aku masih  di lembah  Ku panjat tebing tebing mimpi  Memburu harap dan merayu tatap Di lamunan impian nan sangatlah gelap  Memburu di lecut nafsu Mengejar harapan nan terus pergi  Di gelora keinginan terbesar  Nan membakar dada nyala Tapak Guyah terus menjajal Kerikil baru tebing terjal Nan menghabiskan tenaga  Lemah lunglai di lereng sepi Kian ku di ketinggian  Kian tipis udara dihirup  Kin lemah raga nan Lamah Kian terjal tebing menanti  Dari kucur peluh berpeluh Dari sesak desahan nafas.k Kupeluk puncak gunung tertinggi  Namun ini adalah pertanda  Hamba mesti turun semula  Kini. Sadar lah jiwa makna hidup  Nan diburu adalah kekosongan  Nan didaki cuma sekadar mimpi Pulang pada diri kosong menanti Rantau panjang 25-9-225 Puisi 2 KEPADA MALAM kepada malam kutak kan mengeluh Sebab ia yang menjelaskan perbedaan  Bila ada terang adalah pula kelam  Kepada ...

antalogi 1: ASMARA SANG DUKA

 Puisi 1 KAUKAH AKU  Semusim pertemuan seketika kebersamaan  Hanyalah cipta ruam berpanjangan Tak reda dilipur senyuman tak sembuh di tutup laluan. Dikau nan dikata pembekas luka pengabadian kesakitan  Suka tak suka Riang dan lara Bersahaja semayam sang Sukma Mencatat hari hari kita Di kitab sejarah yang lupa jalan tuk merangkai bunga'  Nan pasti namamu tetap dihati  Wahai sang cinta. Bilamana malam berlayar  Masih ada wajah dikau di pelupuk kesepian  Di ruam dada kelukaan Drama nan berjilid berbaris di batu  Kini jadi luka luka an Hamba fahami sepenuh jiwa Duka bukan milik mu Tapi lara kita bersambungan. Jiwa mu dah sentuh aku Bahkan dalam suara sepi semilir nan tak difahami  Sebagai dendam kedewasaan  (Kau tahu kemana daku Tah dimana) Rantau panjang 24-9-2025 Puisi 2 LALUAN SANG PERINDU di tepian sungai Air mata ini masih ada luka darah remaja dimana dikau bermain main asmara cipta kisah dua angsa nan patah sayapnya kekasih dintik...