Antalogi 2: Bayangan

 Puisi 1


PENDAKIAN SIA SIA

(WIKO ANTONI)


saat aku masih  di lembah 

Ku panjat tebing tebing mimpi 

Memburu harap dan merayu tatap

Di lamunan impian nan sangatlah gelap 


Memburu di lecut nafsu

Mengejar harapan nan terus pergi 

Di gelora keinginan terbesar 

Nan membakar dada nyala


Tapak Guyah terus menjajal

Kerikil baru tebing terjal

Nan menghabiskan tenaga 

Lemah lunglai di lereng sepi


Kian ku di ketinggian 

Kian tipis udara dihirup 

Kin lemah raga nan Lamah

Kian terjal tebing menanti 


Dari kucur peluh berpeluh

Dari sesak desahan nafas.k

Kupeluk puncak gunung tertinggi 

Namun ini adalah pertanda 

Hamba mesti turun semula 


Kini.

Sadar lah jiwa makna hidup 

Nan diburu adalah kekosongan 

Nan didaki cuma sekadar mimpi

Pulang pada diri kosong menanti


Rantau panjang 25-9-225


Puisi 2

KEPADA MALAM


kepada malam kutak kan mengeluh

Sebab ia yang menjelaskan perbedaan 

Bila ada terang adalah pula kelam 


Kepada duka tak lah aku meradang 

Iyanya sadarkan erti daripada kebahagiaan 

Dan kepada kekasih yang dah pergi 

Hamba ucap terimakasih dan kemaafan 

Ajari aku rasa kehilangan 


Hamba hanya wayang 

Bergetar di jalur ketetapan 

Nan tak berhenti terjadi saban waktu 

Dan janji cinta keabadian 

Nan tiada pernah lapuk maupun usang 


Pelukan jasad jasad malang

Pada jiwa luka nan hilang 

Sedarkan aku bahwa sang penyayang Abadi

Tak jua Sudi aku direbut pesaingnya 


Bangko 23-9-2025


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Puisi 3

BUKAN CINTA SEBENARNYA 


berpuluh bayangan menanam rasa

Dalam kabut kelam dingin gigil

Menyeruak di samar mimpi semusim 

Menunda kehampaan nan menggoda goda an


Dah kering sungai harapan 

Dibakar panas terik sang rindu 

Namun sang sejati tetap menjelma

Di jasad kelana nan memeluk fana


Seru air mata buatku 

Pecah derai di keping batu

Menghantam kaki tak jelas tuju

Meramu kata di tatapan palsu


Wahai cinta 

Apa sebenarnya 

Wahai kasih 

Mengapa menyisih


Dah kosong dada

Hampa rasa Karana Dinda

Berulang ganti di pusaran sama

Ini nan di kata kutukan sang pujangga 


Dari awal kisah di pahat

Wajah wajah itu dah menanti

Bertemu mata dengan mataku

Buat tunaikan janji sang abadi 


Di cemburu gerimis sunyi 

Kembali pada Nya jua

Diantara jasad jasad menanti

Dia bersemayam tiadalah henti


Bangko 23-9-2025


 Puisi 4


LULUH 


Asmara 

apa nak akan angkau tagih 

rerindu

apa nak kau sedu


aku bukanlah budak remaja

nan nak kau rayu dengan duka

bukan pula pecinta 

nan mati oleh setia 


bangkit langkah kaki 

berjuang tak kenal mati

masih sejati hanya sang azzali

wanita hanya singgahan rasa


puaskan kau guris hamba 

tak akan ku jatuh lantas runtuh 

ku bangkit bangun pula

istana rindu teguh semesta 


di ribut jiwa

masih aku bertaruh rasa

demi asa nan kau rampas

dan hati nan dah luluh



PUISI 5


KEMBALI KE DIRI


pilih silih buih lirih tersisih 

rana merana karana asmara

merindu sendu di peraduan beku

bercermin ingin nan menolak mungkin


silang kata dah sia sia

silang rasa membawa retak

perpisahan nenguntai bak musuh buas

dan tangis pecah di dada malam


kekasih 

apa aku bagimu 

tersisih

hina aku di istana rindu


kembara

jauh mencari aku dida

ternyata 

pulang semula hanya sia sia


benar kata semula

cinta dunia hanya fana

azzali cinta segala cinta 

tak pernah jauh dari diri jua


Puisi 6

BELAJAR PADA KABUT

datang pergi melayang dinakodai angin
Menutup dingin dengan gerimis hati
Menawarkan kegelapan namun menapak keindahan
Kau hiasan alam sebagai wajah Sang Sejati

Saat guntur mengirim hentakan
Sang sepi tersentak mengingatkan
Bahwa sang cinta masih setia mengatur alur kehidupan
Tanpa lena tidur maupun kelelahan

Hempasan demi benturan
Nak hancurkan jiwa dalam luluh rindu
Tikam hidup gurih jiwa
Ajarkan rasa sakit pembentukan
Bak tanah liat nan dijadikan mahaseni indah

Kaulah cahaya itu
Kaulah cinta suci ini
Kau pula mahligai sunyi
Kau sebenar benarnya keindahan hakiki

(Outro)
Wanita menipu dengan senyuman
Bila ia tak tahu jalan pulang
Lelaki akan memburu kosong
Bila tak kembali pada diri

Dan aku
Tak sudi dipermainkan rasa


Puisi 7

Kau Bukan Rahasia 

Puisi cinta Wiko Antoni 


langkah kaki memijak kerikil tajam
di laluan penuh tumbuhan beronak duri
suara hati berbisik luka perih nyeri disentak cinta tikam
meneriak sakita gemuruh nak tak kunjung diam

selang seling kekasih datang dan berpaling
meninggalkan jejak kenang kenangan
sementara dada kian rapuh dalam kelelahan
memikul sengsara nan tak berkesudahan

(corus)
memburu cahaya bukan gurauan rasa
memburu cinta bukanlah soal sederhana
nak rela ditikam takdir
nak sudi mula dan berakhir

wajah bidadari menyilau tak terjangkau
wajah mahligai jauh tak kuasa gapai
rindu terbentur gurih tajam kata
sayang terhempas gugur berderai

(outro)
harusnya aku sedar dari semula
dunia bukan nyata namun fana
dan dikau tak pernah kuasa
menatap rasa dalam dada hamba hampa

jalan sunyi ini
bukan berarti kekalahan
jalan sepi yang kucari
adalah perkenalan semula pada Azzali cinta


Puisi 8

BADAI MALAM DANAU GEDANG

aku berkenalan dengan yang bernama serampas kuning
Tempat manusia tergesa menjadi Tuhan
Melampaui Kodrat tanpa kepastian
Dan lebur dalam kehilangan nan mneyesatkan

Tentang kekuatan bukan penaklukan fana
Tapi penaklukan dirimu sendiri
Lantas kesesatan menawarkan jalan pintas
Nan membawa kian jauh dari jalan pulang

Serampas bukan sekedar tempat
Apalagi serampas kuning
Di sana ada penawaran
Akan kembali ke diri
Atau pergi semakin jauh

Ketika kabut danau gedang menutup cahaya
Jiwa jiwa gelisah kehilangan dirinya
Dan menatap dunia sebagai tempat abadi

Riak amarah di serapah mantra
Menjanjikan keinginan jadi pernyataan
Nyatanya semakin jauh pergi
Semakin terjebak pada kehilangan

resi syair Ini tentang serampas kuning tempat orang orang menuntut sihir ilmu hitam (tempat misterius tapi ada di dekat Danau Gedang)

Saya mau jadikan laporan kepada Eyang Kirana nih di Kahuripan

Puisi 9

“Sesudah Semedi di Danau Gedang”


Sunyi bukan kosong—

ia hanya lupa cara bicara.

Aku menatap kabut,

dan kabut menatap balik dengan mata air mata.


Di tepi danau,

aku dengar air berzikir dalam bahasa yang tak punya huruf,

setiap riak menulis kalimat

tentang betapa manusia terlalu tergesa mencari arti.


Aku datang sebagai tanya,

pulang sebagai senyum.

Sebab ternyata segala jawab

hanya ingin ditemukan, bukan dipastikan.


Angin berkata lirih,

“Yang kau sebut Tuhan itu bukan di langit—

tapi di sepi yang tak berani kau peluk.”

Aku pun tertawa seperti orang mabuk,

separuh sadar, separuh sujud.


Danau Gedang,

kaulah cermin tempat langit mandi.

Kau tunjukkan padaku,

bahwa setiap luka hanya ingin pulang menjadi cahaya.


Kini aku berjalan ringan,

tak mencari siapa-siapa lagi.

Sebab rinduku sudah jadi kabut,

dan kabut itu, diam-diam,

adalah wajah Tuhan yang menatap balik.


Puisi. 10
🪶 Mantra Lontar Danau Gedang

(terucap di bawah kabut Gunung Masurai)

wahai angin nan lalu,
hembuslah kabut di ubun dunia,
bawa berita dari semesta lama,
tentang insan yang hilang dalam dirinya.

air danau — janganlah diam,
sebutkan nama hening dan gemetar,
karna di riakmu tersimpan wajah Tuhan,
dalam tawa insan yang tak lagi mencari.

wahai bayang nan singgah di tepian,
kau bukan hantu, kau bukan nyata,
kau hanyalah cermin rahasia,
yang memantulkan cinta ke segala arah.

gunung nan tinggi,
tanah nan sunyi,
saksikan langkah sang pencari,
yang menukar doa dengan puisi,
dan puisi dengan tawa ilahi.

tatkala kabut menutup pandangan,
itulah Tuhan memeluk kesadaran,
tiada yang fana selain dugaan,
tiada yang abadi selain ketiadaan.

maka tertawalah, wahai anak cahaya,
karna dunia ini hanyalah permainan maya,
dan semedi hanyalah jalan pulang,
ke dalam diri — tempat Tuhan berbaring tenang.

Puisi 11

Pasal Kesadaran 

“Yang bijak bukan yang selalu khusyuk di tikar sajadah,
tapi yang bisa tertawa saat semesta menertawakan dirinya.

Yang arif bukan yang tahu semua kitab,
tapi yang sadar bahwa dirinya pun kadang jadi bab lucu dalam Kitab Tuhan.”


Rantau panjang 29-10-25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antalogi 3: Dendam Remaja

antalogi 1: ASMARA SANG DUKA