Mini Antologi "Laluan Membawa Badai"

 KASIH SEJATI

kau datang bersama kabut

menyentuh dingin wajah sunyi

bersama rinai nan tiada seyuman

dan gigil lelaki diambang mimpi

daku adalah kembara sepi

di pendakian terjal impi impian

menelusuri kesakitan nan tak usai

ditiap bisik menuju akhir

wajah wajah kekasih menyapa rindu

panggilan tuk pulang semula

di rahasia sang maha rahasia

bersembunyi kaseh tak ada akhirnya

kisah kisah ditulis azzali

semua tentang kini lalu dan esok

digenggam cemburu tiada kesudahan

dan makna kehilangan erti

hapuskan segala duka

nak seka semua air mata

sebenarnya cinta tak pernah mula

jua tiada kan ada akhirnya

wahai kasih yang sejati

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


RAHASIA KEMBARA


kau menjejak di senja

mengguncang dingin di ujung tanganku

bersama desir angin yang tak pernah bertanya

dan bayang langkahku yang tercekat di ambang malam


daku berjalan, kaki penuh retak

di jalan-jalan sunyi yang hanya mengenal bisik

menyisir luka yang tak bertepi

menangkap gema rindu yang tertinggal di setiap sudut


wajah-wajah yang hilang berbisik perlahan

mengarahkan hati pulang, meski kaki tak mampu

di rahasia yang tak tersentuh oleh kata

kasih tersimpan, tak pernah lengkap


kisah-kisah terukir di dinding abadi

tentang waktu, kehilangan, dan cemburu

namun duka ini tak membunuh jiwa

ia hanya menorehkan keberadaan


hapuskan tangis, tapi simpan rasa

karena cinta sejati, bro,

bukan soal mula atau akhir

melainkan tentang keberanian bertahan dalam luka


wahai kasih yang abadi

♥️♥️♥️♥️♥️


Meraih Bayangan

Mata itu bukan tatapan tapi kegelapan

Sebab ia melihat karena diperintah menangkap makna

Tubuh ini bukan kehidupan

Sebab ia berdetak dalam helaan nafas yang ditetapkan

Maka semua hidup hanyalah kematian

Yang hidup adalah sang hidup itu sahaja

Maka saat malam menyelimuti cahaya

Siapa nan kan tahu beda warna dunia

Atau saat usia merebut penglihatan

Siaia nan akan bedakan anyelir dan mawar

Semua hanya dikehendaki dari pemilik kehendak

Berakhir bila sang kehendak mengakhiri

Aurora hanya biasa pandangan dan permainan cahaya

Horizon cuma ujung kemampuan pandangan menjelaskan

Lembah indak dari puncak bukit

Tapi bukit megah dari tatapan lembah

Tahulah aku

Semuanya hanya soal bagaimana mataku diatur memaknai nya

Usai semua perenungan ini

Hamba tahu

Yang terlihat tak seperti sebenarnya

Yabg sejati dalam kebenaran

Hanyalah satu itu itu jua

♥️♥️♥️♥️♥️

AKU BUKAN MILIK SIAPA

setiap mawar menebar wangi

seiringan racun bertabur kabut

senarai kaseh jauh mendalam

disana duri kan tikam sejati

dah dikata sejak semula

cinta bukan untuk merangkul

tapi siapkan buat segala kurban

nyatanya memiliki tuk melepaskan

kembali pada malam

bersemedi dalam sunyi

menemukan asmara sehati

Bersama sang maha sepi

menelan rasa manisnya luka

dan air mata sucikan diri

menuju kesucian Hakiki

melepas dunia demi sang sejati

usah bangga kan pupurmu

atau tarian lenggok lenggang

aku tak akan terpikat silauan

karana aku dah berdamai

Dengan asa Semua rasa

♥️♥️♥️♥️♥️

TARIAN DOSA SANG CINTA

aku habis kalimat

Buat memuji diriku sendiri

Maka Pujian lepaslah dijasad mati

Biar mereka menjadi

Pemuja dirinya sendiri

Aku habis kebanggaan dan kesombongan

Tuk mengangumi diriku sendiri

Maka ku pancarkan cahaya

Untuk menghias keindahan ku sendiri

Bak menatap cermin

Aku berhias tiap waktu

Mengagumi diriku sendiri

Dan melepaskan kalimat agung

Tentang diriku sendiri

Akulah yang maha sombong

Akulah keangkuhan itu

Dan aku mencintai bayangan ku

Seperti cinta pada diriku sendiri

Maka datanglah menghiba

Menangis dan meratap dan berharap

Karena aku dan bayanganku

Berkasih kasihan tanpa batasan

Dan saat akan rindu

Tersungkur lah

Dan saat aku tersenyum berbahagialah

Maka cintaku abadi

Dalam sebutanmu padaku

♥️♥️♥️♥️♥️


TIKAM JAN JADI BENCANA

rerumputan menari nari

di hati nan sunyi menyepi

dan sapa lembut cahaya mentari

menyambut pagi kekasih hati

siapa ucap kata sehati

kemana arah sumpah semula

kini hanyalah bertikam lidah

kata sengketa merubah arah

kekasihku

dimana salah dimana amarah

sehingga badai menerjang sampan asmara

dah karam kita dilautan cinta

meyeka nyeka si air mata

aku bukan nak paksakan rasa

bukan pula mengemis rasa

tapi kisah laluan bersama

haruskah begini akhir kisahnya

lupa dzikir sesatlah fikir

lupa syukur jatuh tersungkur

mengapa kita tak belajar rela

menjaga cinta dan yang kita punya

pada azali segala cinta

bermula tatap tajam menikam

berpasrah rela aku dimalam sepi

semoga duga an ini hanyalah sementara

menguji tekad kita berdua

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

SEBENING EMBUN PETANG

sinar matahari senja

Merah saga emas menyala

Berkilau di dedaunan basah

Usai gerimis dipetang ini

Aku nak tepiskan kenangan

Dari perjalanan nan penuh luka

Namun angin membawanya pulang

Bersama kabut membayangkan semulanya

(Corrus)

Beraneka cinta telah menyapa

Dari terang cahaya sempurna

Namun wajah wajah nan merupa

Tak kuasa menampung gelisah hamba

Disana makna kehilangan daya

Disini sepi jadi jalan kembali

Meraba dada penuh rasa cinta

Namun berakhir luka lara

(Outro)

Kekasih nan ditanam sang sejati

Bunga bunga penuh racun duri

Ma afmu kan ni damba an utama

Dalam Menuju akhir segala kisah

Engkau dibakar kasih sayang sang Cinta

Aku tak kuasa menatap silaunya

Hanya do a semoga dendam sirna

Bersama damai kita Menuju sang Maha Cinta

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

MENUTUP PILU MERAUNG RINDU

mawar menebar racun di sela duri

saat embun mengabut menjelang senja

masih ada ruam nan tiada reda

di dada sakit luka semalam

wajahmu nan penuh lara

dihempas badai nan tak kunjung sirna

dan cinta ini masih berbahang

memilu rindu di syahdu lalu

Gerimis

menulis lukis lara dalam rintih

gerhana

cinta luka tak kunjung usai jiwa

asmara

dara meraungkan kesal tiada sudah

dihias warna warni harapan resah

kaulah api

kaulah diri, sang cinta rindu abadi

kaulah air

nan menyirami kerontang rasa ada

kaulah segalanya

kaulah awal dan akhir kata cinta

kaulah jua

kesan mengesan abadi tiada berawal

ditiap tarikan nafas

masih ada dirimu

ditiap degup dalam dada

hanyalah padamu yang damba

segala damba jiwa ini

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

LEMBAYUNG 

lembayung senja merah membara

ketika angin berhenti hembus

kesepian menusuk dalam jantung

menghentak degupan rindu sia sia

segala daya telah aku ikhtiarkan

demi menuju mahligai kasih azzali

dari swnyuman ke pelataran rindu

namun bertemu itu jua

rezam duri menikam kehati

meracuni asa nan kian menepi

kemana arah langkah kasih sejati

tinggalkan laluan nan mengesan lara

kabut senja membawa gerimis

di keremangan jiwa memudar harapan

dimana lagi dimana pilu

cinta sejati hanyalah pulang pada diri

biar sepi menjadi jalan pulang

bersembunyi dari riuh asmara fana

mengucap makna kasih cinta sejati

di malam malam di pertarungan suci

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Tegak teguhlah

pilih silih buih lirih tersisih

rana merana karana asmara

merindu sendu di peraduan beku

bercermin ingin nan menolak mungkin

silang kata dah sia sia

silang rasa membawa retak

perpisahan nenguntai bak musuh buas

dan tangis pecah di dada malam

kekasih

apa aku bagimu

tersisih

hina aku di istana rindu

kembara

jauh mencari aku didadaku

ternyata

pulang semula hanya kosong belaka

benar kata semula

cinta dunia hanya fana

azzali cinta segala cinta

tak pernah jauh dari diri 

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

CUBA NAK SALING FAHAMI

bila tikam bertikam kata nan dieja

keras hati diadu tanpa kasih sejati

kemana bijak dan cinta

menjauh membakar amarah sayang pun pergi

andai panas dada nak dikipas

kejernihan jiwa ternoda

hilang malu hilanglah batas

tinggal angkuh meraja Lela

kekaseh

cuba kenang dan kembali

pada cinta dan tulus nan dibina semula

sang rasa

cuba bertenang berdamai dad

biar terang semua kelam

di antara kita

kita disatukan sang Maha Cinta

kini selisih bersilang arah

bila buruk kelak menimpa

usahlah Tuhan kau tuduh sebabnya

Cunta sang maha cinta

azzali penuh Rahmat sejati

perpisahan bukan karana Nya

Namum kita nan sama bersikeras Rasa

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

CUBA NAK SALING FAHAMI

bila tikam bertikam kata nan dieja

keras hati diadu tanpa kasih sejati

kemana bijak dan cinta

menjauh membakar amarah sayang pun pergi

andai panas dada nak dikipas

kejernihan jiwa ternoda

hilang malu hilanglah batas

tinggal angkuh meraja Lela

kekaseh

cuba kenang dan kembali

pada cinta dan tulus nan dibina semula

sang rasa

cuba bertenang berdamai dada

biar terang semua kelam

di antara kita

kita disatukan sang Maha Cinta

kini selisih bersilang arah

bila buruk kelak menimpa

usahlah Tuhan kau tuduh sebabnya

Cunta sang maha cinta

azzali penuh Rahmat sejati

perpisahan bukan karana Nya

Namum kita nan sama bersikeras Rasa

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Puisi cinta lagi bahasa Jambi (Etnik jangkat)

PANCUR SENJO

mentari disaput kabut petang

sepi dikaki Gunung masurai

kabut bersamo rinai pancur

turun di halaman dingin kelam

di pelataran alam rayo

ambo merenung mulo bamulo

bulih nak tahu siapo diri

dak lupo badan asal muasal

iluk di pandangan hanyolah mato

tutur sapo nan lembut cumalah hiasan

sabena bena cinto dirahasio

dek nan ado sagala ado

pueh aku menerawang asal

dak jugo suo nan sebenar muasal

batanyo jauh kadalam badan

mano lah nian nan kasih sayang

adindo jangan menikam kato

ambo lah jatuh di bayang diri

kalu lah dapek pinto nyo diri

balik lah kasih ka nan sebenar diri

pulang kito ke muasal cinto

biyak rusuh resah nak redo

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Jurang kaseh

--------------+


mentari disaput kabut petang

sepi dikaki Gunung masurai

kabut bersamo rinai pancur

turun di halaman dingin kelam

di pelataran alam rayo

ambo merenung mulo bamulo

bulih nak tahu siapo diri

dak lupo badan asal muasal


iluk di pandangan hanyolah mato

tutur sapo nan lembut cumalah hiasan

sabena bena cinto dirahasio

dek nan ado sagala ado

pueh aku menerawang asal

dak jugo suo nan sebenar muasal

batanyo jauh kadalam badan

mano lah nian nan kasih sayang


adindo jangan menikam kato

ambo lah jatuh di bayang diri

kalu lah dapek pinto nyo diri

balik lah kasih ka nan sebenar diri

pulang kito ke muasal cinto

biyak rusuh resah nak redo

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

JALAN BABALIK


entah lah apo adindo pikie

menukar emas dingan tembago

lah payah badan nak menjelehkan

buto mato memandang bena jo salah

dunia ini peradun pesinggahan

alam akhirat ketempat nak babalik

ambo hidup mencari ketenangan

dindo memburu silau pukau pukauan

bena kato hang tuo dulu

turut kendak hati mati

turutkan mato buto jadinyo

ulah menurutkan hati nan gedang

sansaro jugo nan ditanggungkan

tebecik tangih dimalam 


lengang

merano diri hilang penanono

di sepi hati kasih mailang

pupuih putuih tali harapan

jalan basimpang nan dihadapan

adindo

usahlah pasai rasai.dipakai

ai sayang

usah lah budi salah mamakai

kalau tak nak menanggung sansai

kito manuju si kangun rindu

segalo kasih segalo cinto

abadi dipeluk nan maho.cinto

jadi.tujuan segalo tuju

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

CEMBURU ABADI

pernah aku tangkap kabut dihadapan

nak membekap bayangan nan senyum getir

namun saat hati berdetak harapan

ternyata sunyi pulang ke diri

sesaat mata terpesona indah dan sempurna palsu

nyatanya hanya tatapan resah menanti akhir waktu

dan rasa hanya soalan bak mana makna bertemu

di laluan dan segala tantangan nan menunggu

aroma harum hanya suasana pengharapan

indah Dimata hanya silau siluan

merdu sapa hanya bahasa dan bahasi.

nan panas didalam sejuk diluaranya

sekeliling hanya palsu merindu

di persimpangan kata pisah bak hantu

dicekam cemas mahu kehilangan

pada sesuatu nan kan pasti pergi

kekasih kau mencengkram cemburu

tak beri aku akan sedikitpun waktu

tak bisa paling tak dapat silaf

di fana cinta azzali membara

sang cinta dari semua cinta

sang ada dari semuanya yang berada

nan menitip kaseh siang dan malam

kau dekap aku dengan duka dan derita

salam ku ucapan

salam mu kenyataan

salam ku bisikan

salam mu keriyuhan

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

BADAI MALAM DANAU GEDANG

aku berkenalan dengan yang bernama serampas kuning

Tempat manusia tergesa menjadi Tuhan

Melampaui Kodrat tanpa kepastian

Dan lebur dalam kehilangan nan mneyesatkan

Tentang kekuatan bukan penaklukan fana

Tapi penaklukan dirimu sendiri

Lantas kesesatan menawarkan jalan pintas

Nan membawa kian jauh dari jalan pulang

Serampas bukan sekedar tempat

Apalagi serampas kuning

Di sana ada penawaran

Akan kembali ke diri

Atau pergi semakin jauh

Ketika kabut danau gedang menutup cahaya

Jiwa jiwa gelisah kehilangan dirinya

Dan menatap dunia sebagai tempat abadi

Riak amarah di serapah mantra

Menjanjikan keinginan jadi pernyataan

Nyatanya semakin jauh pergi

Semakin terjebak pada kehilangan

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

KEKASIH KABUT

Wiko Antoni

setelah puas menggenggam bunga

Hanya duri jua di sela jari

Saat kembara terhenti lelah

Cuma luka nan perih terasa

Ini nan dikata orang

Memeluk rindu belantara sunyi

Mawar itu bukan bunga

Ia wangi bersama duri

Melati itu bukan kembang

Ia cinta nan sekejap layu

Dekap tatap sang kasih man membekap

Di sepi diri nan mengeluh nyeri

Dan hampa menyiksa belantara duka

Menyingkap mimpi nan tiada bertepi

Wahai mengapa laluan menjadi dendam.

Wahai mengapa lara jadi tuntutan

Padahal sungai kian keruh dari huluan

Di tepian masih tersisa bayangan hitam

Di lereng gerimis senja

Titik rinai gemuruh kesunyian

Memiyip kisah kasih nan asah asuh asih

Akhirnya tetap jua tersisih

Lelaki badai mendekap hempas

Di lara hidup nan keras

Tapi tak akan hancur oleh hempasan

Karena cinta bukanlah soalan memiliki

Namun melepaskan demi menemukan

Selamat malam sunyi

Aku tahu kau tak akan pergi

Karena Bersamamu sepi

Cinta maha cinta akan kembali

13-11-25

Kampung Jiwa Sepi

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

TERLALU BANYAK CINTA DI SATU HAKIKAT 

Meraungkan sesalan di merah saga mayapada Mengenang senyum gerimis, badai, dan malam nan tenang Dan sang maha cinta nan merubah rubah wajah Membawa pada sakit abadi dan penyucian

Api itu hangat nan sama, air itu sejuk serupa Namun daku mencari dan terus mencari Hingga kehilangan diriku sendiri Pada masanya terbaring lelah mengakui Aku kalah dalam kesakitan nan tak terkatakan

Sinaran mentari petang Mengajar hamba makna kan pulang Dari segala bekas dan ruam Luka lara lalu laluan

Terhampar siluet di kenangan Bercerita dengan amarah dan dendam Silaf dan dosa nan tak tersucikan Kepada insan insan tersayang

Kulihat Kau dan Kau jua Dari segala dada nan Kau hadapkan Tahulah daku nan kau katakan Bunga bunga indah diperjalanan Cuma jelma nyata dari segala nyata Menemukan daku dengan sejatiMu wahai sang maha cinta

13-11-25 Rantau Panjang

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

SUNYUMAN SANG MENDUNG

Wiko Antoni

sewaktu kabut pulang ke halaman

Mega berkuasa si langit tinggi

Angin berkendara dingin menyapa

Gerimis dan gemuruh guntur sahut menyahut

Gigil gigi pujangga asmara

Bersemayam di dalam dada

Menulis segalanya nan ada di hadapan

Bak bait bait sajak semesta raya

Tinta yang tak pernah habis

Jari nan tak henti menari

Menjadi diri nan tiada menjadi maha ada

Terkembang menjadi guru nan tak berhenti mengajar

Tiada batas karya sastraMu

Bahkan hati ini jua tulisan nan tak henti berganti warna

Mencipta puisi, roman, drama dan kisah

Di pentas nan tiada pernah usai bercerita

.

Mendung mengulum senyum

Seraya memancarkan halilintar

Dan gelap pandangan menjelaskan

Bahwa di tinta Miliaran warna ini

Hamba hanya bagian dari rangkaian huruf itu.

Rantau panjang 13-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Puisi


Cinta kekasih

-----------

Betapa sabarnya Kau kekasih

Selalu maaf selalu rindu

Sentiasa mendekap meskipun dilupakan

Semenjak awal tiada awal hingga akhir tiada akhir

Penuh jerat, intrik cemburu nan tak henti

Namun sabar menantikan hingga ambo sadar pada makna cinta

Dikau tak jua pernah menolak bika ambo pulang

Dari kealpaan silaf pada rindu rindu Mu

Kekasih nan selalu berdiam di Istana sepi

Yang tiada pernah membenci hanyalah mengadili

Namun memberi tanpa henti biat diningat atau dilupakan

Kau disana selalu di sana

Sedang aku disini selalu di sini

Kelasih. Nan selalu mendekap

Dengan keras nan meluluhkan

Cinta nan bukan sekedar cinta

Namun penjajahan nan memabukkan

Dikau menyapa dalam diam

Menitipkan kesadaran bahwa Kau tiada pernah beranjak

Dari jiwa nan kosong dan hati nan sepi

Rantau panjang 13-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️



Bukan kau nan aku cinta

 

Boleh aku nak bertanyakah?

Sebenarnya seberapa nilai daku padamu

Sekilas pandang atau sepintas lalu

Kemudian terbang bersama angin

Kenapa pelik nak memutuskan

Pergi atau nak tetap tinggal

Karena aku kehilangan kata pasti

Pada apa nan bersemayam di dadamu

Apakah aku masih kau dekap?

Atau hanya pelengkap permainan

Ini misteri nan tak kunjung ungkap

Nan menggoda untuk di fahami

Manis kata bisa dikarang

Manis muka berkalang dusta

Namun cinta sang maha cinta

Bersembunyi di istana cinta

Bila dikau nak bertukar rasa

Bukan mustahil amarah Nya tiba

Api duka kan membakar lara

Hanguskan janjian dan minpi semula

Bukan kau nan aku pertahankan

Tapi cinta segala cinta

Wajah segala wajah

Nan tak kan dusta dalam apa jua

Ku Sayangi kau dalam wujud Dia

Ku percayakan diri pada Nya

Bila kau tak jaga Dia di dada

Tak mustahil ku kan pergi selamanya


♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Puisi gua bro

#SDBS_TERINGAT_SELALU

KAU CINTA ABADI

Puisi Wiko Antoni

Apa bedanya saat dihina dan dipuji?

Saat bahagia saat bersedih

Saat tertawa bahagia atau tertawa dalam kesedihan

Menangis haru atau tangisan kepedihan

Hanya soal apa yang dinyalakan Dia

Apakah seorang pengembara tahu?

Bahwasanya tak ada pembeda Segala yang dirasa

Kabut, kelam, terik, terang

Hanyalah rasa, rasa nan dinyatakan

Oleh Nya sang maha nyata

Dalam keheningan, keramaian soalan rasa datang

Mempengaruhi apa nan di inginkan

Namun tak merubah apa jua

Sebab segala nan ada hanyalah citra an

Nan dibangun sambung menyambung

Cuma saja

Ketika rasa itu dianggap bukan tetapan

Hampa menghampiri kekosongan

Berkelindan menjerat kesadaran

Menutup jalan pulang

Dan menghapus kebenaran

Bahwa nan ada ini adalah ketiadaan

Yang tak minta di ingat

Adalah sesuatu yang selalu mengingatkan

Dan saat ingatan padanya tersaput ketiadaan

Justru diNya nan menyemayam

Membuat kehancuran tak terhidarkan

Dan dalam kepastian sejati

Di ingat walau tidak diingat

diriNya tetap di sini

Di Istana dada sunyi sepi

Rantau Panjang 12-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Puisi pagi ini bro

LAPIK PANDAN DATUNG

Dah puluhan tahun

Menapak jalan bedua dengan adindo

Dakian demi dakian jalan berlik

Memaksa singgah di peradun

Alau skejap henti letih

Namun satu yang tak berubah

Mata yang tiada pernah menuntut

Itulah yang kurindu setiap waktu

Siapa nan setiap waktu menjadi sahabat

Kanti bertarung pendapat tentang arah

Atau cuma rajuk merajuk

Hanya satu sajo mura segala alunan sang malam

Dan kanti bertarung dengan segala kesakitan

Kau adinda

Aku hanya berkata

Disaksikan lapik pandan ibumu

Nan kian lusuh di tempat tidur kita

Hapus air mata adinda

Karena hanya kaulah

Satu satunyo jalan pulang ambo

Rantau panjang pagi dingin 12-11-25

Istilah Jangkat di puisi ini:

datung: mertua

Ambo: saya/aku

Lapik: tikar

Kanti: teman

Lusuh: kumal

Betarung: berkelahi, bertengkar

Rajuk: baper

Peradun: tempat persinggahan di perjalanan

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


SUARA DI HENING KABUT

siapa nan menyapa saat sesiapa tak sudi sapa

Hanyalah hening, laluan, air mata dan kesalan

Orang kata banyak nan kan iringkan tawa

Namun hanya sedikit nan akan iringkan duka

Dunia ini berlapis palsu di semua sudut

Sedikit orang nan cuba tuk tampak kan nyata akan disisih.

Namun semua melupakan

Semua meniadakan bahkan singkirkan

Orang nan tak meminta dianggap ada

Namun selalu ada bila hianya diperlukan

Silauan tatapan membuat buta

Desakan kemahuan matikan hati

Kedamaian sejati hanya dalam diri

Namun selalu lengah di tinggalkan

Menitipkan gerimis pada kabut sunyi

Lebih lah indah dari menantang terik matahari

Namun semua berburu ilusi

Di laluan nan hanyalah mimpi mimpi

Tanah menagih jasad, tak sabar akan kandung diri

Waktu menghisap Usia

nan kian berkurang

Kedamaian dan bahagia diri

Tersembunyi dalam kepuraan

Akhirnya merana seksa hingga hujungan

Aku cuba menangis menyucikan keruh angan dalam diri.

Aku bakar ilusi dengan api suci kesadaran sejati

Karana waktu pulang kian tiba

Di tulang belulang nan kian guyah jua.

Rantau panjang 12-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

RINDU Tak berhujung

Di hamparan terbujur cinta

Melepaskan aroma mawar melati

Dipandangan melayang kabut

Menghalangi tatap kerinduan

Siapa menagih cinta

Akan terikat pedihnya khayalan

Siapa menabur kasih

Bersiaplah akan di tagih

Bersungai air mata

Tak cukup buktikan setia

Berlaut laut ungkapan tulus

Tak jaminan balas berbalas

Kata tebing tebing nan kokoh

Ujar lembah lembah nan teduh

Kata ambo ambo nan sayang

Kata adik adik dah bekorban

Dibalik tatap ada rahasia

Di Balik kalimat tersimpan nakna

Bila mata liar curiga

Dan bibir sindir menyindir

Mana nan dikata cinta sejati

Hanyalah tukar menukar tuntutan hati

Setelah dada retak.

Setelah titian lapuk

Sisiapa tak akan mampu bertahan

Tinggal ruam luka abadi

Dalam rindu rindu palsu

Nan menggores di dada pilu

Aku tetap di sana

Dihati kau nan tak pernah nyata

Sembari menatap kau memupus cahaya.

Nan di tanam sang maha cinta

Akhirnya kita sama pulang.

Pada diri kita sendiri.

Tahulah nakna cinta

Sebagai jalan buat kembali

Bagaimana nih puisi bro

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


RESAH

Titik gerimis di pelupuk mata

Menetes darah luka hati

Di pendakian terjal mimpi

Menagih laluan pulang balik

Mawar bukan luka tapi ujian

Melati bukan wangi tapi amanah

Rindu bukan syahdu namun tagihan

Pada kesetiaan nan samar di kelam jiwa

Inilah nan dikata menggapai siluet kabut

Dimana angkau menari narikan Tauh dan rentak kudo

Kemudian ambo menitip salam di pancur angin

Memyepi di sudut kelam sunyi hari

Nak kato sayang lah hilang

Nak bisik benci tak kuasa

Lantas wajah bulan retak

Di angan-angan tiada kesampaian

Kasih ambo rindu wujud

Rindu nyata rindu rasa

Namun di tiap tubuh dan jiwa jiwa

kau juga nan Menikam tuntutan

Cinta Kau di ukiran tanah

Mengeluarkan air mata untuk insan Hina ini

Tapi rindu fana ini

Jalan menuju dikau.

KETERANGAN

Tauh = tarian lembut daerah Jangkat

Rentak Kudo = Tarian ritmik bersemangat daerah Jangkat

Kato= mengatakan

Ambo = saya

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


GERIMIS DI UJUNG JALAN

Puisi Wiko Antoni

sendirian di taman beribu bunga

keharuman menyebar di angin lalu

keheningan tak hendak menepiskan rasa

dalam pilu rindu nan sayat bagai perih sembilu

melara di hembusan kenangan asmara

tersibak tirai dari mendung awan kelabu

menggenggam asa panas rasa membara

cuba tepis sembilu si rindu rindu sendu

di hentian penuh aroma wangi

terasa igauan tiada sudi berlalu pergi

mana kata mana janjian mana pula sumpah mana setia

semua pemanis bibir tipismu nan nyata penuh pantun berdusta

Lelaki tiada sudi membuang air mata

hanya karana kisah cinta remaja

namun turihmu duhai kekasih

benar membekas sepanjang usia

telah remuk sukma hancurlah jiwa

merana raga oleh sengsara

namun rasa ini tiada kunjung sirna

membekas luka sepanjang usia

Tahulah aku siapa diri

bak fakir mendamba kasih

padahal cinta yang kau punya

di ukur bendahara emas permata

langit memerah mentari senja

gerimis menyiram alam nan kelam

kisah ku tebus dengan melangkah

menagih janji dendam tak sudah

di perjalanan nan kian kelam

dan destinasi nan kian suram

Malam membawa cinta

Malam membawa peringatan

Malam menunjuk ujung jalan

Malam waktu untuk pulang

Jangkat 9-11-25


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

TIKAM MAWAR

Puisi Wiko Antoni

Perih dada seakan tak reda

Biar kabut membelai sepi

Mata cinta menatap tajam

Panas sunyi di istana rahasia

Liku bukit, duri, rerumputan tepian teaga

Seolah masih cuba nak sadarkan diri

Hidup bukan perburuan kejayaan

Tapi Pertarungan Menuju pulang

Pernah miliki kuntum kuntum mawar

Di tiap tikam darah cinta bersungai tak henti

Gerimis kembali di pelataran

Menagih laluan nan tak hendak pergi

Mahu aku pulang ke dada kau

Tapi pintu dah kau kunci tak bisa di buka

Nak pula aku jauh kembara

Langkah terhenti di persimpangan

Dalam gelam bara unggun padam

Masih cuba usir gigil hati

Dengan sebuah keyakinan

Kasih utama tak pernah lupa

Membalut luka menawar lara

Dalam dekapanNya nan menghancurkan

ApiNya nan menyembuhkan

Jua air mata nan menyucikan

Dan rintih jadi do a

Ratap jadi harap

Tersisih jadi pelukan

Kemudian jalan kembali pada diri

Terhampar di gurun azzali

Rantau Suli 9-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


GERIMIS DI UJUNG SENJA

gerimis di ujung senja

Kabut membekap mata

Luka mengapa pulang mula

Gerimis di relung sukma

Membasah sepi sang jiwa

Lara menagih pedih lama

Gerimis di wajah cinta

Mengisak tangis sang cinta

Resah mengapa iris Sukma

Gerimis di ujung senja

Melati mawar tikamkan rasa

Hampa kosong menyesak dada

Usai gerimis ujung senja

Tersingkap kisah remaja

Dah luka sekujur rasa

Di mamah Hikayat masa

Usai gerimis ujung senja

Basahlah pelataran makna

Berjuta bayangan duka

Merona menghias pelupuk mata

Gerimis diujung senja

Usia menghantu kembara

Langkah kian rapuh kian Guyah jua

Nan pulang pada rasa segala rasa

Gerimis diujung senja

Lembayung memerah saga

Sebelum malam kelamkan asa

Pulang' pada cinta segala cinta

8-11-25

Rantau Suli-Jangkat Timur

Sang Lembah Tenang

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

GEMURUH

Puisi Wiko Antoni

Kau datang bersama badai

Pergi bersama angin

Menggelar sering hujan

Tinggalkan basah di jiwa resah

Nan tak kering berair mata

Dah lelah betikam kata

Letih bersilang makna

Guris sembilu tebas menebas

Darah sepanjang laluan kaseh

Masa pelangi hiasi senja

Masih ada pancur rinai petang

Dan matahari malu nak tampak

Di balik mega kelam menghitam

Basah tanah, resah gigil dada

Deru sungai kecil berbatu

Di terjang banjir dari huluan

Tepian karam deru air nan keruh

Nak hapus indah sangat

Nak di tahan ngilu menyayat

Inilah mainan berkasih

Dengan cinta fana dunia

Biar demikian

Daku faham jua akhirnya

Sebenarnya cinta dalam diri

Di istana dada sirr Illahi

Dan kau cuma bayangan

Nan duga aku demi penyucian

Tuk siapkan jalan tuk pulang

Jangkat 7-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️

SANG ASA

Kekuatan yang aku andalkan

Bahkan saat daku lemah telah terluka

hilang bukan Karena azam sengsara

Tapi nasib yang tak izinkan memilih

Saat kau ada Semua indah

Semua bangkit dan berseri

Bahkan saat kau luka

tegarmu menjahit sendiri pedih sukma

biar aku meraungkan sajak

Tapi semua tetap tak lari dari tatapan

nan disusun oleh

sang maha pembuat penetapan

di laluan

Kita harus bersimpangan

bukan karena tikam kata

Hanya karena tiada jembatanku

tuk menyeberang Menuju mu

Apakah itu nan disebut jurang?

Saat aku tak punya keberanian sedikit pun

mengakui Bahwasanya cahaya ku,

bersinar cerah indah di dalam dada mu

walau berkali Tuhan memberikan tanda

berkali pula aku biarkan sia sia

Aku tak kunjung menyeberang

Bukan karena pengecut

Namun takut kau akan terlibat

Dalam luka luka ku nan sengaja kubiarkan meruyak

tuk fahami sakit ini adalah penyucian

dan api suci membakar kefana an

Kini aku arungi sendiri

Badai ini, luka ini, sakit ini

Tanpa seorangpun aku izinkan mengikuti pelayaran

Bahkan kaseh seseorang yang terdekat Dengan ku

tak kubiarkan mengikat luka ini

Karena aku tahu

Dah biasa aku berpulang pada sang asa segala asa.

Cinta segala cinta

ada di perih seksa

nan terus memburu

memaksa daku untuk dewasa

Dimanakah kau?

Semoga cinta mu abadi

Dalam kasih sang sejati

Usah iba usah luka

Karena lelaki badai tetap akan bersama badai

Dan tak akan lepas pegangan

Walau dihantam ombak samudra

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Pekik sunyi


siapa nan semedi di kaki bukit dingin

Tak henti menyaksikan alam berdzikir desau sepi

Atau kabut menari dari lembah ke puncak impian

Di telun telun nan berhias pancur dingin Gigil

Dan hembusan nan liar di pucuk kulit manis

Menghempaskan ranting kopi menebar bunga bunga rerumputan ke Padang nyapuk

Tangkal nan menari nari dilereng bersama betung berderak

Ini sunyi tapi bukan berarti lembut

Disini angin memilih jalannya sendiri

Aliran liku anak sungai nan kadang kering bisa juga mengamuk

Tebing kokoh pun akan runtuh dalam gemeretak batu menimpa lembah

Dan Tuhan sangat dekat jemarinya

Aku bersajak.bukan tentang riuh ribut

Namun ianya perihal dunia nan cuma peradun singgah

Di buaiyan mimpi mu terjaga kau tidurkan nurani

Yang selalu berbisik bahwasanya kembara semua nyawa cuma untuk kembali

Sayang, banyak lupa jalan pulang bahkan enggan buat pulang

Disinilah lembah badai nan berganti peran dengan kabut

Dan disinilah ribut terdengar senyap

Mengingatkan bahwa jalan pulang tak pernah tertutup

Bagi yang mahu membuka mata hati

Keterangan:

Nyapuk: rumput krukunyu

Pancur: kabut gerimis

Kulit manis: cassiaverra

Peradun: tempat berteduh singgah dijalan

Telun: air terjun

Betung: bambu betung (bambu besar yang keras dan tinggi)

Tangkal: bambu tipis kecil dan memanjang

Kalau Puisi ini gimana bro #penyairuniversitasmerangin

#puisi_cinta_wiko_antoni

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

LELAKI DI PERAHU RETAK

siapa yang suka berkelindan dengan luka.

Mengemis damai pada kesombongan nan menjajah rasa

Dan simpang demi simpang menyesatkan arah

Aku tahu Tuhan sedang bersenda gurau

Ini pilihan sang kembara sunyi

Nan tak lazim jadi tetapan kebanyakan lelaki

Mengembang layar perahu kecil

Di ombak besar samudra raya. Sendirian

Ya. Berkorbanlah sendirian

Agar tak lebih banyak mata menikam kasih

Dan lebih jauh hati tersisih

Mungkin perahu hancur menghantam karang

Atau tiang layar patah diterjang gelombang

Cabik layar oleh sang badai

Karam aku di samudra rasa

Tapi aku memilih inilah pelayaran ku sendiri

Tak libatkan kuntum manapun

Atau aroma wangi sesiapa

Jauh ke pulau tanpa penghuni

Semedi kata kan menemukan makna

Bahwa kesendirian bukanlah sepi

Tapi berpelukan dengan cinta sang sejati

7-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Kau bukan pilihan

Ada dua arah menarik dua tali menjerat

Bagaimana aku menjelaskan

Bahwa cinta bukan soal memilih dan dipilih

Tapi mengapa harus memilih?

Saat kasih menjaga tuntutan dan sayang menuai badai

Apakah aku harus berlayar sendirian?

Atau kau aku dan dia tahu bahwa luka bukan untuk disulam?

Jangan tanya Mengapa aku tak memilih

Karena menetapkan siapa yang bahagia dan terluka

Bukan perkara sederhana

Atau memilih untuk sama terluka adalah juha pilihan?

Saat senyum beraroma perisaingan

Dan tulus sudah jadi drama

Aku tahu, bukan aku yang mempermainkan

Tapi aku, sedang dipermainkan

Kemudian kita semua melangkah menuju luka lebih dalam

Kekasih.

Aku telah memilih

Kekasih diatas kasih

Dan tak membahagiakan bagi kita semuanya

Namun ini cukup mendamaikan

Dan adil bagi luka, aku-kau-dia

Aku hanyalah pulang pada satu pintu

Saat menutup pintu kalian

Dan Cinta ku adalah Sang Maha Cinta

Jangkat -

7-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

DINGIN SANG KABUT

desiran angin sambut gigil di Tanah basah

Bersama pancur nan menyapa gerimis malu malu

Di lembah tampak tarian sang angin

bukit menari diterjangan sang badai

Bersama perjalanan nan berselimut sepi liku berliku sang pendakian

Bunga' bunga menerjang aroma wangi

Bermain tangkai di kelopak warnanya

Bercanda gemulai di seluruh daunnya

Menikam resah dengan nuansa

Di embun pada tiap-tiap ranting

Di hamparan, kelam pandangan bertarung keindahan

Liku bukit barisan lekuk lembah pegunungan dan gemeretak gigi

Beradu kisah dengan kasih di horizon nan tak bisa hadir

Sebab tebing lebih kuasa menjajah mata

Langkah rahman dan rahim

Membekap jiwa kosong nan tenang'

Bersemedi diam.dipelukan abadi

Walau jasad terus memburu rindu

Hakikat menatap cinta maha cinta

Berpelukan dan tak ingin kemana

Sebab beranjak adalah fana

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

Gerimis di Nilo Dingin


Kala pancur menyertai kabut

Tersisa hanya gigil di gemeretak Gigi

Dan langit menyembunyikan mentari

Laluan basah menyipratkan kesepian

Mata menembak bukit dan lembah

Menagih rimdu nan belum terkuak

Dan masa terus mengancam usia

Di detak detik jantung nan lemah

Ini Perjalanan menjemput cinta

SDi pertarungan asa dengan tekad

Sementara helai helai rerumputan

Menari lambai di tepi perjalanan

Ini bukan petualangan pahlawan

Tapi lelaki badai nan enggan tuk kalah

Meskipun telapak kaki terluka

Dan ayunan langkah kian goyah

Akulah si penadah cinta

Dan paksa diri patuh dan takluk

Walau dalam kesakitan nyata

Ku Tahu cinta tak pernah jauh

Dari desir darah dan detanyu nadi

Nilo Dingin -Danau Pauh

6-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


LALUAN MEMBAWA BADAI


dah jauh langkah guyah menapak asa

Luka demi luka mengering Tanpa rawatan

Air mata menyucikan noda

Api cinta sang cinta membakar penyembuhan

Tapi laluan menyapa lagi

Bersamaan dengan ruam perih kembali

Apakah ini nan namanya karma

Seorang kembara nan mencintai maha cinta

Angin ini bukan semilir

Ini badai Usia separuh nafas

Nan nak hempas teguh yakin ku

Di naungan kasih abadi

Biar mawar kembali pada duri

Atau wangi pulang ke melati

Jejak lara tak akan kukahit lagi

Biar meruyak jadi pengalaman

Kasih sejati dekat nak gapai

Kisah sehati adalah pengalaman

Cinta sebenarnya tak pernah berjanji

Hanyalah menadah untaian manikam

Ini awal Pengembaraan

Bukan buat bermain rasa

Ini langkah kepastian

Bukan sekedar igauan malam.

sawah Dusun Tuo 6-11-25

♥️♥️♥️♥️♥️♥️

 bukan semilir
Ini badai Usia separuh nafas
Nan nak hempas teguh yakin ku
Di naungan kasih abadi

Biar mawar kembali pada duri
Atau wangi pulang ke melati
Jejak lara tak akan kukahit lagi
Biar meruyak jadi pengalaman

Kasih sejati dekat nak gapai
Kisah sehati adalah pengalaman
Cinta sebenarnya tak pernah berjanji
Hanyalah menadah untaian manikam

Ini awal Pengembaraan
Bukan buat bermain rasa
Ini langkah kepastian
Bukan sekedar igauan malam.

sawah Dusun Tuo 6-11-25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antalogi 3: Dendam Remaja

Antalogi 2: Bayangan

antalogi 1: ASMARA SANG DUKA